oleh

RG Penerima Gelar Adat Gorontalo “Ti Bulilango Hunggia”. Disebut Bencong

Gorontalo, (PN) — Wadah group berbagai media sosial, semestinya digunakan untuk berbagi ide dan gagasan. Bukan malah menyebarkan kebencian, apalagi cenderung mendiskreditkan salah satu figur atau kelompok.

Perbedaan pandangan dan haluan politik, itu hal  biasa, dalam dinamika demokrasi. Sepantasnya, kemukakan hal positif agar daerah yang kita diami semakin berkembang. Bukan justru menjatuhkan bahkan menyerang pribadi seseorang, yang dianggap berseberangan secara politik.

Lihat Juga  Gobel Lakukan Diplomasi Herbal di Belarusia

Hal itu yang muncul dalam diskusi WAG (whatsapp group), yang digagas oleh berbagai aktifis dan politisi Gorontalo.  Awalnya, masih berjalan normal diskusi dalam group tersebut. Namun heranya, ada tulisan yang memojokkan tokoh Gorontalo yang dibagikan dalam group oleh  salah satu anggota group tersebut.

“Sebenarnya, dalam pengamatan kami, diskusi saat itu (Selasa, 26 april 2021) berjalan baik, dan kami menganggap biasa, sebab belum ada perilaku anggota group yang melenceng, ” kata Alyun Hippy, anggota WAG Warkop Diskusi Politik, pada Rabu (28/04/2021) saat diwawancarai.

Lihat Juga  Lahirkan Inovasi di Masa Pandemi, Walikota Gorontalo Marten Jadi Pembicara di TV Nasional

Namun Alyun justru heran, tak lama berselang, saat baner yang dibagikan gambar Rachmat Gobel dan Winanri Monoarfa, pada Senin (26/04/2021) sekitar pukul 17.25 wita, muncul komentar  kurang pantas dan tak etik dalam group tersebut,  yang  langsung dikomentari tak SP alias Cipto pukul 17.29 wita.

“Dalam hitungan menit, si SP langsung menulis,  hal yang tak pantas, yang menurut hemat kami, ia alamatkan kepada dua tokoh tersebut, ” sambungnya.

Capture dalam WAG Diskusi Politik

Komentar SP alias Cipto tersebut, seperti ini yang ia tulis, “Co deklarasi dulu…. biar tau ada kelamin atau bencong ini?!, ” tulisnya.

Lihat Juga  Peraih Medali PON, Marten Taha: Patut Diberikan Reward

Inilah kemudian yang memunculkan ketidaksenangan dari para pendukung RG.  Cipto dalam menulis komentarnya, dikaitkan dengan gambar tokoh penerima gelar adat dari Dewan Adat Gorontalo, yakni Rachmat Gobel dan Winarni Monoarfa.

Gelar adat yang diterima RG sapaan akrabnya, “Ti Bulilango Hunggia” artinya Sang Pemberi Cahaya Negeri.  Pertanyaanya, apakah  Cipto tahu atau tidak. Yang pasti komemtarnya bakal berujung persoalan hukum, sudah didepan mata.

Bagi Alyun, siapapun dapat memberikan sumbangsih pemikiran dalam membangun daerah, tak terkecuali  Cipto warga dari luar Gorontalo yang sudah lama menetap di bumi Serambi Madinah. Hanya memang selayaknya harus beretaika atau beradab, dan memampu menempatkan kata dalam konteks diskusi.

Lihat Juga  Gagasan Rachmad Gobel untuk Gorontalo 2051

“Saya heran, ia begitu diterima baik oleh seluruh masyarakat Gorontalo, tapi entah apa maksudnya berkomentar bencong kepada dua tokoh tersebut, ” tegasnya.

Cipto saat dikonfirmasi melalui sambungan telponnya, tak banyak berkomentar dan membantahnya, namun ia justru  membenarkan komentarnya, tanpa rasa bersalah, dan mohon minta maaf.

“Seperti dalam tulisan itu, ” jawab Cipto singkat, saat dikonfirmasi, terkait pertanyaan apa maksud saudara memberikan komentar “Co deklarasi dulu…biar tau ada kelamin atau bemcong ini?!, dalam WAG Diskusi Politik.

Lihat Juga  Fakultas Ekonomi Fokus Percepat Program Guru Besar Bagi Dosen

Istilah bencong umumnya disematkan kepada laki-laki yamg memiliki kecendrungan gaya/penampilan seperti perempuan. Sementara istilah tomboi, lebih pada perempuan yang memiliki kencendrungan gaya seperti laki-laki.

Bencong artinya banci,” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sementara kata banci sendiri seperti ini, Banci :(1) tidak berjenis laki-laki dan juga tidak berjenis perempuan; (2) laki-laki yang bertingkah laku dan berpakaian sebagai perempuan; wadam; waria; ” (KBBI)

Penempatan istilah bencong, menunjukan bahwa kata tersebut  ditujukan kepada laki-laki dalam baner/gambar yang dipajang berdampingan Winarni Monoarfa.

Lihat Juga  Gandeng Basarnas, Mahasiswa Dibekali Pengetahuan Penanggulangan Bencana

Alyun, menyampaikan bahwa pihaknya masih mengkaji komentar tersebut, secara hukum, bila memungkinkan, sebagai media center Partai Nasdem Gorontalo, akan mencermati secara serius, adanya upaya menyerang pribadi yang juga  tokoh Nasdem kini dimanahkan sebagai Wakil Ketua DPR-RI.

“Penyebutan bencong, jelas di alamatkan kepada Kaka Rachmat Gobel, bukan kepada Winarni,” jelasnya.

Tak lama kemudian, Cipto menambahkan klarifikasinya,  dan menyatakan bahwa ia tak bermaksud lain dengan komentar tersebut, dan meminta hal ini tak dibesarkan. “Tidak ada maksud apa-apa. Mohon tidak usah di muat,” pungkas Cipto tanpa sekatapun meminta maaf kepada publik, terkait komentarnya. (RM)

Penulis : Ridwan Mooduto

Komentar

News Feed